Sabtu, 19 Desember 2009

Sugesti, korelasinya dalam upaya peningkatan iman dan taqwa

Sugesti adalah kekuatan atau kemampuan mempengaruhi pikiran seseorang atau paradigma yang telah tertanam atau ditanamkan pada pikiran orang lain atau diri sendiri, yang dapat berdampak positif atau negative pada diri seseorang.

Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan.

Karena itu segesti dapat dibedakan menjadi dua :

(1) auto sugesti,
yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan,
Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat.

(2) hetero sugesti,
yaitu sugesti yang datang dari orang lain.
Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan.

Sugesti diri adalah tindakan afirmasi diri yang bertujuan menghilangkan pikiran negatif kita. Melakukan sugesti diri, akan menghasilkan efek yang luar biasa yang mempengaruhi kinerja kita berikutnya, meskipun hasilnya masih belum bagus (Tidak ada sesuatu yang instan, kecuali Mie Instant )

Banyak cara kita melakukan untuk mensugesti diri, misalnya seperti: “Jika orang lain bisa, aku juga pasti bisa!” atau “Ya! Aku Bisa!” atau “Aku akan baik-baik saja” dan lain sebagainya. Sugesti diri memperbolehkan kita untuk menguasai pikiran kita sendiri, seperti layaknya hipnotis.

Ada beberapa kasus ‘unik’ menyangkut sugesti diri, pada umumnya apabila seseorang minum kopi bertujuan untuk melawan atau menghilangkan rasa kantuk, biasanya diminum sebagai teman dalam begadang atau mengerjakan tugas, yang dikerjakan hingga larut malam, ternyata kebiasaan ini bisa dibalik 360 derajat, ada seseorang yang meminum kopi justru untuk membuatnya bisa tertidur dan mendatangkan rasa kantuk, banyak kasus-kasus yang justru diluar kebiasaan pada umumnya, ada yang harus hujan-hujanan agar penyakit demam atau flu yang dideritanya menjadi sembuh.

Dan ada sebuah percobaan yang dilakukan di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Percobaan ini tentang efek rasa sugesti. Pada sekumpulan orang yang sakit flu dibagi menjadi 2 kelompok. Yang satu kelompok diberi obat, yang dikatakan oleh peneliti tersebut sebagai obat yang mahal. Untuk memperkuat rasa mahal, disertakan pula brosur-brosur yang menyebutkan harga sebijinya Rp 500.000. Sedang pada kelompok lain, dikatakan obat yang diberikan hanya obat generik. Murah hanya Rp 500 per biji.

Setelah beberapa saat, mereka ditanyakan bagaimana perasaannya. Ternyata kelompok yang dikatakan telah diberi obat mahal, mereka merasa agak baikan atau sembuh. Sedang kelompok lainnya, masih merasa sakit, belum ada perubahan. Padahal sebenarnya obat yang diberikan kepada kedua kelompok tersebut adalah sama.

Inilah yang dikatakan sebagai ‘placebo effect’. Sebuah rasa sugesti. Sebuah perasaan lain dalam diri yang mempengaruhi penilaian kita di luar logika. Kasus di atas, sugesti itu muncul dari harga obat yang mahal. Obat dengan harga mahal mensugesti pasien menjadi merasa lebih cepat sembuh.

Lalu…..apa korelasinya antara sugesti dengan upaya peningkatan iman dan taqwa? Dan seberapa manjur metode sugesti ini digunakan dan hasil apa yang bisa diperoleh dalam upaya meningkatkan iman dan taqwa?

Menjawab pertanyaan diatas cukup sulit juga, karena sampai saat ini belum ada riset khusus yang coba menyentuh permasalahan ini, yaitu korelasi antara sugesti dan efek yang didapat dalam upaya peningkatan iman dan taqwa, tapi berdasarkan percobaan yang dilakukan di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Dan hasil yang didapat. Mungkin cara dan metode kerjanya bisa kita adopsi, tidak kita lakukan dalam suatu kelompok, tetapi kita lakukan terhadap diri kita sendiri dahulu.

Sebagai bahan percobaan, yaitu dengan men’suggest’ diri kita sebelum tidur untuk bisa bangun pada pukul 03.00 dini hari, coba kita lakukan terus menerus dalam durasi sebulan, dan bagaimana hasil yang kita peroleh? Dan apa metode seperti ini dapat membuat kita menjadi mudah bangun dan mampu melawan rasa kantuk, silahkan mencoba….!

Setelah kita peroleh hasilnya (hasil tergantung kepada masing-masing individu, dan akan berbeda antara satu dengan yang lain) bisa kita coba untuk mensugesti amalan-amalan ibadah yang lain, untuk lebih mudah dalam proses ‘Checklist’ nantinya, perlu dibuat suatu tabel rencana target yang ingin dicapai dan realisasi target yang bisa dicapai dalam sebulan, dan bagaimana ‘progress’ nya, semakin naik atau berjalan konstan atau malah semakin menurun.

Barangkali, perlu kita adakan percobaan ini suatu hari nanti dalam kapasitas yang lebih besar, riset yang dilakukan kepada beberapa orang dalam dua kelompok, atau mungkin untuk mereka yang sedang menyusun ‘tesis’ untuk penyelesaian Program S2 nya, bisa mencoba melakukan riset dan percobaan ini.

Selamat mencoba…..!
Poskan Komentar

SearchSight.com

"Changing the Way that the World Looks at the Internet!"