Selasa, 05 Januari 2010

Too young to be married....

"Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali". (Qs. An Nisaa (4) : 1).

Pernikahan adalah suatu peristiwa yang amat sakral, dan kalau memang bisa, cukup dilakukan hanya sekali seumur hidup, walau dalam islam tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan sebanyak maksimal 4 kali, tergantung urgensi dan apa yang melatar belakangi tujuan dari masing-masing individu yang menjalankan sunah Rasulullah ini.
Karena banyak alasan kenapa orang memutuskan untuk berpoligami atau hanya tetap beristeri cukup hanya satu saja seperti kita. Karena memang berpoligami belum bisa diterima oleh kebanyakan masyarakat kita dan merupakan hal yang sangat tidak popular untuk dilaksanakan di republik ini.

Sultan hamangkubuwono X dalam acara 'Kick Andy' pernah ditanya kenapa hanya beristeri satu, padahal sebagai orang nomor satu dikeratona Jogjakarta, beliau berhak untuk beristeri lebih dari satu, beliau menjawab kenapa hanya beristeri satu, karena ternyata tidak mengenakan mempunyai banyak Ibu, dan ini dialami sendiri oleh beliau.

Disini, bukan membahas masalah poligami tetapi masalah pernikahan dini, yaitu pernikahan yang dilakukan dalam usia masih sangat muda, dalam Undang-undang perkawinan No I, tahun 1974, disebutkan pada Pasal 7 ayat 1, yang berbunyi :

“Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.”

Yang membuat risau adalah anak ana yang pertama ‘Gibran Huzaifah amsi’ pernah mengajukan wacana untuk menikah sebelum melaksanakan tugas akhir kuliahnya dengan alasan sebagai motivasi dan penambah semangat. Mendengar wacana ini isteri ana sempat terkaget-kaget juga dan tidak menyetujui rencana yang dianggap terlalu dini tersebut, dan beralasan untuk tidak mengikuti jejak orang tuannya yang memutuskan menikah pada usia dini, kebetulan kita menikah pada usia dini, ana berusia belum genap 23 tahun dan isteri belum genap 19 tahun atau mengikuti jejak pamannya yang menikah pada usia 19 tahun.

Sebagai orang tua tentu kita tidak menginginkan sang anak terlalu cepat atau terlalu lambat untuk menikah, tapi ana sebagai bapak dari sang anak hanya melihat dari sisi baiknya dan berlandaskan kepada hadist-hadist Rasulullah, sebagai berikut :

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

Dan sepertinya seru juga, ketika diusia 45 - 46 tahun sudah mempunyai seorang cucu, hahaha…

Melihat dari Undang-undang perkawinan yang berlaku di Republik ini, memang sudah layak anak ana untuk menikah, usia anak ana sekarang 20 tahun. Tetapi harapan ana semoga saja ini hanya ‘emosi sesaat’ yang muncul karena melihat pamannya yang berani mengambil keputusan menikah dalam usia 19 tahun dan kini telah mempunyai seorang anak berusia 2 tahun.

Dampak psikologis yang timbul dari pernikahan dini bisa dibilang hanya sedikit, dari pengalaman ana, dengan menikah dini tidak serta merta mengukung kebebasan kita, apalagi memasung kreatifitas, jadi terserah anak ana apa keputusan yang akan diambil, ana hanya bisa mensupport apapun keputusan ana, karena tugas kita sebagai orang tua adalah memfasilitasi sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan menikahi anaknya. Apalagi sebagai lelaki yang menjadi wali bagi dirinya sendiri.

Too young to be married…too young to be free……..

Kamis, 31 Desember 2009

Sebuah Renungan : Sediakan selalu ruang untuk dibenci

“Jangan engkau kira sebuah kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin adalah keburukan, sebab bisa jadi ia adalah kebaikan yang ditangguhkan untukmu”
(Umar bin Khatab r.a.)

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, nyaris seperti kilatan petir diwaktu hujan, dan tak terasa usia sudah hampir menembus angka 44, angka yang seharusnya sudah bisa membuat diri ini menjadi bijaksana dan sarat dengan kepatuhan dalam peribadatan, fisik mungkin boleh menjadi lemah, seperti mata yang harus sudah mulai dibantu dengan kaca mata plus, tetapi ruhiyah harus semakin kuat dan mampu memanage hawa nafsu menjadi nafsu ‘mutmainah’.

Selama perjalanan waktu, sudah banyak yang dilewati dan terlewati dalam bersosialisasi dalam masyarakat, yang penuh dengan kemajemukan sifat, karakter maupun latar belakang sosial, ekonomi dan pendidikan, dan pasti ada gesekan-gesekan dalam berbaur dan bersosialisasi tersebut, dan tidak menutup kemungkinan banyak sikap, perilaku dan ucapan yang mungkin meyebabkan seseorang menjadi sakit hati dan tidak bisa menerima perlakuan kita, sadar atau tidak sadar kita pasti telah melakukan hal tersebut.

Mungkin kita sudah berusaha untuk berbuat sebaik mungkin, dengan menghargai pendapat orang lain, menyukai sikap dan perilaku orang lain, dan mencoba tidak membenci perlakuan orang lain terhadap kita yang seharusnya bisa menjadikan kita menjadi benci, memaafkan apa yang telah orang lain perbuat terhadap kita, dan juga sudah berusaha menyayangi terhadap sesama muslim.

Apa yang telah kita lakukan dan perbuat, dan telah berusaha untuk berbuat sebaik mungkin dan memberikan yang terbaik yang kita bisa berikan, selalu menjaga sikap dan ucapan, dan mempunyai image yang baik dalam masyarakat, bukan berarti serta merta kita terbebas dari 'aroma kebencian'.

Tapi itulah kehidupan, selalu ada dualisme dalam hidup ini, bahwa berusaha menjadi orang besar artinya menjadi orang yang dicintai, tetapi sekaligus dibenci, dikagumi tetapi juga dimusuhi, disegani tetapi juga dikhianati, dan dihormati tetapi juga dicaci maki.

Jadi, sediakan selalu ruang untuk dibenci, dengan selalu tersedia ruang tersebut untuk menampung kebencian orang lain, mudah-mudahan bisa membuat kita menjadi lebih berjiwa besar dan berlapang dada. Yang terpenting ruang yang tersedia bukan karena kita mempunyai suatu kesalahan fatal atau sikap yang memang layak untuk dibenci.

Kebencian selalu ada, walau ketika kita menginginkan kesamaan, namun hanya Allah yang mampu mempersatukan hati, dan jangan kebencian yang ada dibalas dengan kebencian, hingga akhirnya timbul dendam kesumat, dan permusuhan yang berkepanjangan.

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
( سورة الأنفال , Al-Anfal, ayat 63)

So…bagaimana kalau benci tapi rindu….?

Kamis, 24 Desember 2009

Life is Beautiful......?

“Hanya orang-orang berjiwa matang dan besar bisa melalui hidup diambang krisis, tetap dengan humor dan optimistis”.

Berapa belas tahun yang lalu, ana pernah menonton sebuah film yang disutradarai oleh orang berkebangsaan Italia, dan diperankan oleh Antonio Benigno, yang berjudul 'Life is Beautiful'. Kalau tidak salah film tersebut meraih oscar untuk katagori Film Asing terbaik.

Bukan maksud ana untuk menceritakan atau membuat sinopsis tentang film tersebut, Cuma sangat luar biasa falsafah hidup dan pesan moral yang ingin disampaikan dalam film ini, bahwa kita harus selalu optimis menghadapi hidup dan kehidupan ini dan sebagai muslim kita juga harus meyakini pertemuan kita dengan Allah SWT dan untuk senantisa optimis menjalani hidup dan kehidupan.

Digambarkan bagaiman seorang bapak yang ditinggal mati oleh isterinya dan harus merawat seorang putra dalam keadaan perang dan masa-masa imperium Nazi di benua Eropa. Sang Bapak begitu meyakini betapa “Hidup itu Indah” dan bagaimana dia bisa memandang kehidupan ini yang diambang krisis tetap dengan humor dan optimistis, hidup adalah masa karya, berkaryalah sebanyak mungkin selagi masih hidup.

Buya Hamka dalam bukunya ‘Falsafah Hidup’, mengatakan bahwa didalam Islam yang menjadi pusat dari segenap Falsafah Hidup, adalah sebagai berikut :

1. Taqwa, merupakan pusat kehidupan didalam islam, kalau ingin mengetahui filsafat atau rahasia kehidupan yang dianjurkan islam, bertaqwalah. Taqwa artinya memelihara, memelihara hubungan dengan Allah dan juga memelihara hubungan dengan manusia.

2. Sabar, mempunyai kekuatan iman dalam menghadapi persoalan hidup, dalam melaksanakan amaliyah-amaliyah ibadah, dalam beramar ma’ruf nahi munkar, dan lain sebagainya.

Seberapa indah hidup ini, seberapa warna warni hidup ini, tergantung dari dan sejauh mana kita memandang dan menyikapi kehidupan ini, semakin dekat kepada Allah SWT, maka akan semakin indah hidup dan kehidupan ini.

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.
( سورة البقرة , Al-Baqarah, ayat 212)

Mudah-mudahan kita bisa menjalani hidup dengan sebenar-benarnya, dan tidak mennyia-nyiakan hidup yang entah sampai berapa lama lagi kita bisa menghirup nafas diatas bumi ini.

Losta masta...bikin hidup lebih hidup.
Ya Allah...terima kasih, kau beri kesulitan untuk urusan duniaku, tapi tidak untuk urusan akhiratku

Selasa, 22 Desember 2009

Hari Ibu, Peranan Sentral dan Pribadi yang luar biasa

Kemarin, tepatnya tanggal 22 Desember bertepatan dengan ‘Hari Ibu’, suatu hari yang dikhususkan untut mendedikasikan peran wanita tidak saja sebagai Ibu, tetapi juga sebagai Isteri, sebagai sosok yang menjadi cerminan akhlak sebuah bangsa, sosok yang mempunyai peranan amat besar dalam menciptakan dan membentuk generasi berikutnya sebagai ‘Generasi Qur’ani dan Rabbani’ atau sebaliknya.

Ibu dimata ana adalah pribadi yang luar biasa, yang rela melewati malam-malam panjang dan hari-hari yang melelahkan untuk menjaga, merawat, mendidik, melindungi sang buah hatinya. Yang tak pernah putus, terus menerus mendoakan sang anak untuk kesuksesan hidup dan kehidupannya.

Betapa peranan Ibu sangat sentral dan memang sudah layak dan sepantasnya kita memuliakan Ibu, tidak cukup hanya dengan menghormati, tapi bagaimana kita bisa mengkedepankan kepentingan Ibu diatas kepentingan duniawi lainnya. Banyak hadist-hadist yang memerintahkan kepada kita untuk memuliakan sosok Ibu, bahkan dalam Al Qur’an pun disebutkan :

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".
( سورة الإسراء , Al-Isra, ayat 23)

Ketika kelahiran putra pertama dan kedua, sengaja ana melihat langsung dan menyaksikan proses kelahiran mereka dari awal hingga siap disusui oleh ibunya. Sayang putra yang ketiga ana tidak diizinkan untuk melihat prosesi kelahiran secara ‘Caesar’, dan ini sungguh merupakan pengalaman yang sangat luar biasa, dengan visualisasi ini ana bisa mengetahui arti perjuangan hidup dan mati, hanya untuk bisa mengeluarkan sang jabang bayi, dan kedepannya jadi bisa lebih menghargai sosok wanita, dan kenapa Allah begitu memuliakan perempuan sehingga dalam Al Qur’an dicantumkan surat khusus yang membahas tentang wanita, yaitu ‘Surat An Nisa’.

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Luqman 31:14)

Tetapi kini peranan Ibu sudah mulai tergeser, tidak lagi menjadi sosok yang dimuliakan dan di nomor satukan oleh sang anak, dan juga peranan ibu sekarang makin bertambah, tidak saja berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya tetapi juga bagi cucu-cucunya, karena sang anak sibuk dengan urusan dunia dan tidak punya waktu lagi untuk mengurus anak, sehingga peranan ini digantikan oleh sang nenek, untuk masalah ini memang muncul perdebatan pro dan kontra, dan kita harus bijak dalam mengambil sikap dalam masalah ini.

Apapun polemik yang muncul, Ibu merupakan peranan sentral yang tidak dapat tergantikan, dan isteri juga merupakan sosok yang luar biasa, yang dengannya kita bisa berbagi masalah, bertukar pikiran, tempat berkeluh kesah, dan sebagai pendukung kita untuk terus mengusung da’wah, yang menjadi inspirasi untuk terus maju dan maju.
Insya Allah ana tidak pernah lelah dan lupa untuk terus meminta ridho sang Ibu, karena ‘Ridho allah adalah Ridho orang tua’ dan terus mengkumandangkan doa disetiap waktu dan kesempatan untuk Ibu dan Bapak.

Terima kasih Ibu….karena engkaulah ana bisa jadi seperti ini, ana bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa dibanding engkau, ‘Nothing compares to you’.

Terima kasih Isteriku tercinta, teman hidupku, separuh nafasku,'you are.... my inspiration'

Minggu, 20 Desember 2009

Khitan, Urgensinya dalam Islam

“Anak adalah anugerah yang terindah, bagaimana kita harus bisa tetap menjaga keindahan itu?” (Amri Fauza)

Ada beberapa kewajiban orang tua terhadap anak selain memfasilitasi sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, aqiqah, dan salah satunya adalah mengkhitankan anak lelakinya.

Khitan secara bahasa artinya memotong. Secara terminologis artinya
memotong kulit yang menutupi alat kelamin lelaki (penis). Dalam bahasa
Arab khitan juga digunakan sebagai nama lain alat kelamin lelaki dan
perempuan seperti dalam hadist yang mengatakan "Apabila terjadi pertemuan dua khitan, maka telah wajib mandi" (H.R. Muslim, Tirmidzi dll.).

Dalam agama Islam, khitan merupakan salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kita kepada ajaran agama. Dalam hadist Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Kesucian(fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memendekkan kumis dan memotong kuku" (H.R. Bukhari Muslim)

Secara medis dan klinis terbukti bahwa orang yang berkhitan lebih sehat dibanding mereka yang tidak berkhitan, Pro-kontra mengenai perlu-tidaknya khitan pada laki-laki sudah lama berlangsung. Tapi tampaknya hasil penelitian terbaru ini bisa dijadikan pegangan bahwa khitan memang perlu.

Laki-laki yang dikhitan terbukti jarang sekali tertular infeksi yang menular melalui hubungan seksual dibanding mereka yang belum disunat, itulah yang termuat dalam jurnal Pediatrics.

Dalam jurnal disebutkan bahwa khitan dapat mengurangi risiko tertular dan menyebarkan infeksi sampai sekitar 50%. Makanya jurnal juga menyarankan manfaat besar mengenai sunat bagi bayi yang baru lahir.

Hukum Khitan

Dalam fikih Islam, hukum khitan dibedakan antara untuk lelaki dan perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khitan baik untuk lelaki maupun perempuan.

Hukum khitan untuk lelaki:

Menurut jumhur (mayoritas ulama), hukum khitan bagi lelaki adalah wajib. Para pendukung pendapat ini adalah imam Syafi'i, Ahmad, dan sebagian pengikut imam Malik. Imam Hanafi mengatakan khitan wajib tetapi tidak fardlu.

Menurut riwayat populer dari imam Malik beliau mengatakan khitan hukumnya sunnah. Begitu juga riwayat dari imam Hanafi dan Hasan al-Basri mengatakan sunnah. Namun bagi imam Malik, sunnah kalau ditinggalkan berdosa, karena menurut madzhab Maliki sunnah adalah antara fadlu dan nadb. Ibnu abi Musa dari ulama Hanbali juga mengatakan sunnah muakkadah.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mughni mengatakan bahwa khitan bagi lelaki hukumnya wajib dan kemuliaan bagi perempuan, andaikan seorang lelaki dewasa masuk Islam dan takut khitan maka tidak wajib baginya, sama dengan kewajiban wudlu dan mandi bisa gugur kalau ditakutkan membahayakan jiwa, maka khitan pun demikian.

Berdasarkan uraian diatas mengenai wajib atau tidak wajib, maupun muncul Pro dan Kontra mengenai khitan, sebagai seorang muslim, yang terbaiklah yang kita pilih, karena tidak ada salah dan ruginya kalau kita dikhitan, selain sehat juga dapat hadiah dari tetangga.

Tapi bukan berarti tugas kita sebagai orang tua telah selesai dan berkurang, karena masih banyak tugas lebih penting menanti didepan mata. Bagaimana kita bisa mendidik anak-anak kita dan menjadikan anak kita sebagai generasi 'qur’ani dan rabbani', dengan tanpa memaksakan kehendak kita. Seperti puisi ‘Khalil Gibran’ berikut ini :

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Sabtu, 19 Desember 2009

Sugesti, korelasinya dalam upaya peningkatan iman dan taqwa

Sugesti adalah kekuatan atau kemampuan mempengaruhi pikiran seseorang atau paradigma yang telah tertanam atau ditanamkan pada pikiran orang lain atau diri sendiri, yang dapat berdampak positif atau negative pada diri seseorang.

Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan.

Karena itu segesti dapat dibedakan menjadi dua :

(1) auto sugesti,
yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan,
Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat.

(2) hetero sugesti,
yaitu sugesti yang datang dari orang lain.
Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan.

Sugesti diri adalah tindakan afirmasi diri yang bertujuan menghilangkan pikiran negatif kita. Melakukan sugesti diri, akan menghasilkan efek yang luar biasa yang mempengaruhi kinerja kita berikutnya, meskipun hasilnya masih belum bagus (Tidak ada sesuatu yang instan, kecuali Mie Instant )

Banyak cara kita melakukan untuk mensugesti diri, misalnya seperti: “Jika orang lain bisa, aku juga pasti bisa!” atau “Ya! Aku Bisa!” atau “Aku akan baik-baik saja” dan lain sebagainya. Sugesti diri memperbolehkan kita untuk menguasai pikiran kita sendiri, seperti layaknya hipnotis.

Ada beberapa kasus ‘unik’ menyangkut sugesti diri, pada umumnya apabila seseorang minum kopi bertujuan untuk melawan atau menghilangkan rasa kantuk, biasanya diminum sebagai teman dalam begadang atau mengerjakan tugas, yang dikerjakan hingga larut malam, ternyata kebiasaan ini bisa dibalik 360 derajat, ada seseorang yang meminum kopi justru untuk membuatnya bisa tertidur dan mendatangkan rasa kantuk, banyak kasus-kasus yang justru diluar kebiasaan pada umumnya, ada yang harus hujan-hujanan agar penyakit demam atau flu yang dideritanya menjadi sembuh.

Dan ada sebuah percobaan yang dilakukan di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Percobaan ini tentang efek rasa sugesti. Pada sekumpulan orang yang sakit flu dibagi menjadi 2 kelompok. Yang satu kelompok diberi obat, yang dikatakan oleh peneliti tersebut sebagai obat yang mahal. Untuk memperkuat rasa mahal, disertakan pula brosur-brosur yang menyebutkan harga sebijinya Rp 500.000. Sedang pada kelompok lain, dikatakan obat yang diberikan hanya obat generik. Murah hanya Rp 500 per biji.

Setelah beberapa saat, mereka ditanyakan bagaimana perasaannya. Ternyata kelompok yang dikatakan telah diberi obat mahal, mereka merasa agak baikan atau sembuh. Sedang kelompok lainnya, masih merasa sakit, belum ada perubahan. Padahal sebenarnya obat yang diberikan kepada kedua kelompok tersebut adalah sama.

Inilah yang dikatakan sebagai ‘placebo effect’. Sebuah rasa sugesti. Sebuah perasaan lain dalam diri yang mempengaruhi penilaian kita di luar logika. Kasus di atas, sugesti itu muncul dari harga obat yang mahal. Obat dengan harga mahal mensugesti pasien menjadi merasa lebih cepat sembuh.

Lalu…..apa korelasinya antara sugesti dengan upaya peningkatan iman dan taqwa? Dan seberapa manjur metode sugesti ini digunakan dan hasil apa yang bisa diperoleh dalam upaya meningkatkan iman dan taqwa?

Menjawab pertanyaan diatas cukup sulit juga, karena sampai saat ini belum ada riset khusus yang coba menyentuh permasalahan ini, yaitu korelasi antara sugesti dan efek yang didapat dalam upaya peningkatan iman dan taqwa, tapi berdasarkan percobaan yang dilakukan di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Dan hasil yang didapat. Mungkin cara dan metode kerjanya bisa kita adopsi, tidak kita lakukan dalam suatu kelompok, tetapi kita lakukan terhadap diri kita sendiri dahulu.

Sebagai bahan percobaan, yaitu dengan men’suggest’ diri kita sebelum tidur untuk bisa bangun pada pukul 03.00 dini hari, coba kita lakukan terus menerus dalam durasi sebulan, dan bagaimana hasil yang kita peroleh? Dan apa metode seperti ini dapat membuat kita menjadi mudah bangun dan mampu melawan rasa kantuk, silahkan mencoba….!

Setelah kita peroleh hasilnya (hasil tergantung kepada masing-masing individu, dan akan berbeda antara satu dengan yang lain) bisa kita coba untuk mensugesti amalan-amalan ibadah yang lain, untuk lebih mudah dalam proses ‘Checklist’ nantinya, perlu dibuat suatu tabel rencana target yang ingin dicapai dan realisasi target yang bisa dicapai dalam sebulan, dan bagaimana ‘progress’ nya, semakin naik atau berjalan konstan atau malah semakin menurun.

Barangkali, perlu kita adakan percobaan ini suatu hari nanti dalam kapasitas yang lebih besar, riset yang dilakukan kepada beberapa orang dalam dua kelompok, atau mungkin untuk mereka yang sedang menyusun ‘tesis’ untuk penyelesaian Program S2 nya, bisa mencoba melakukan riset dan percobaan ini.

Selamat mencoba…..!

Rabu, 16 Desember 2009

Tahun Baru Hijriyah 1431 H, Gema dan Pesonanya dimata Umat Islam

Besok, tanggal 18 Desember 2009 kita akan memasuki 'Tahun Baru 1431 H', seperti biasanya dalam menyambut tahun baru hijriyah tidak semeriah dan seheboh seperti menyambut tahun baru Masehi, dalam menyambut tahun baru Masehi biasanya jauh-jauh hari sebelum Perayaan dimulai, telah dibentuk suatu Panitia atau mengontrak ‘Event Organizer’ untuk mengemas perayaan tersebut dengan kemasan yang mempunyai daya jual tinggi, dengan mendatangkan artis-artis papan atas, untuk mendongkrak dan menaikan gengsi perayaan tersebut.

Tahun Baru Hijriyah seperti angin lalu dimata umat Islam, tidak ada kegiatan khusus atau dibentuknya suatu Panitia dalam menyambut pergantian tahun tersebut, yang jadi permasalahan bukan dari bentuk seberapa meriah kita merayakannya, seberapa banyak perputaran uang yang terjadi atau kesan ‘Wah’ lainnya, yang jadi permasalahan betapa banyak umat Islam yang justru ikut-ikutan dan kadang lebih sibuk dalam menyambut perayaan Tahun Baru Masehi, dan betapa banyak yang salah kaprah dalam memahami tentang tahun baru ini. Menurut sejarah kenapa pergantian Tahun Baru Masehi diperingati setiap tanggal 01 Januari, katanya tanggal tersebut merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, tapi tanggal tersebut dipilih tidak ada bukti-bukti otentik yang menunjukan bahwa pada tanggal tersebut Yesus benar-benar terlahir.

Pernah juga coba cari-cari di Ensiklopedi ‘Britanica’ atau ‘Americana’ tidak ditemukan kepastian hari kelahiran Yesus Kristus, kalau memang ini merupakan hari kelahiran Yesus, yang ditetapkan sebagai awal pergantian tahun, lalu…kenapa kita mesti sibuk mempersiapkan perayaan ini, yang hampir setiap sudut kampung atau kota kita jumpai mereka yang merayakannya dengan cara dari bakar ikan sampai acara hiburan semalam suntuk, yang puncaknya di tandai dengan tiup terompet, betapa gema dan pesonanya telah membutakan mata umat Islam.

Pernah juga bertanya kepada seseorang yang nota bene beliau seorang Muslim, “Pak, kenapa bapak ikut dalam perayaan Tahun Baru Masehi ini?”, dia menjawab “karena kita pakai kalender Masehi, jadi kita ikut merayakannya”, suatu jawaban yang terdengar aneh, lalu apa karena kita pakai kalender Masehi, serta merta setiap tanggal yang berwarna merah harus juga kita ikut merayakannya?

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman”.
( سورة آل عمران , Ali Imran, ayat 100)

Dalam menyambut Tahun Baru Hijriyah 1431 H. untuk tahun mendatang apa perlu kita rayakan bukan dengan kegiatan hiburan, tetapi dengan kegiatan ‘Perenungan’ atau ‘Muhasabah’, merenungi apa yang sudah kita lakukan setahun terakhir, target-target apa yang sudah bisa kita capai, dan apa yang menjadi target kita untuk setahun kedepan. Mungkin kegiatan ini bisa kita kemas dalam bentuk Mabit dimasjid, mendengarkan ‘Taujih’ dan ‘Tausyiah’ yang diakhiri dengan Qiyamul Lail atau diteruskan dengan kajian Subuh atau Dhuha.

Gema dan pesona Tahun Baru Hijriyah, memang akan sulit untuk menandingi gemerlap Tahun Baru Masehi, tapi apa salahnya kita mulai untuk memperbaiki pemahaman yang salah pada sebagian Umat Muslim tentang Perayaan Tahun baru masehi, dan menghindari agar tidak terjebak dalam usaha-usaha umat lain untuk menina bobokan kita dalam kerlap kerlip dunia, apalagi saat ini kita begitu dimanjakan oleh ‘3 F’ yaitu ‘Fashion’, ‘Food’ dan ‘Fun’, yang makin bergelimpangan mall-mall dimana-mana, yang belum terasa lengkap hidup kalau belum mengunjungi mall, walau sekedar hanya untuk ‘cuci mata’, dan juga iklan-iklan yang berseliweran dimedia cetak dan elektronik untuk membuat kita menjadi ‘Konsumtif’ dan makin cinta dunia.

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar”.
( سورة الفرقان , Al-Furqan, ayat 52)

Insya Allah dengan pergantian tahun menuju tahun 1431 H ini. Kita semakin banyak merenung dan bermuhasabah, dan timbul upaya untuk sedikit demi sedikit memperbaiki ‘Misunderstood’ yang terjadi pada Umat Islam saat ini.

By the way, kemana kita malam Tahun Baru besok….? Sudah siapin terompet belum…?

SearchSight.com

"Changing the Way that the World Looks at the Internet!"